Friday, 18 April 2008

Monsinyur Petrus Joannes Willekens, S.J.

Mgr. Willekens, Pendiri Seminari Tinggi

Petrus Joawilekens1nnes Willekens dilahirkan tanggal 6 Desember 1881 di Reusel, Brabant Utara. Dia adalah putra walikota setempat, Tuan Adrianus Willekens dan Nyonya Willekens-Borrenbergen. Sejak kecil, dia ingin menjadi imam. Ini wajar karena saat itu, para pemuda Brabant pada umumnya memilih satu dari dua profesi yang lazim di kalangan suku mereka: menjadi guru atau menjadi imam, dua pribadi yang dianggap berpendidikan baik di kalangan orang-orang Brabant. Kendati perjalanan hidup menjadi imam tidaklah mudah, dia diperbolehkan menempuh studi bahasa Latin di Kolese S. Yosef, Turnhout, Belgia yang dikelola oleh para Yesuit.

Menjadi Yesuit

Setelah satu tahun belajar di Seminari Kecil St. Michiels-Gestel, s’Hertogenbosch, tanggal 26 September 1900, Willekens masuk novisiat Yesuit di Mariendaal, dekat Grave, Brabant Utara. Tahun 1904, dia belajar filsafat di Oudenbosch. Namun, kondisi kesehatan tidak memungkinkannya untuk belajar. Dia terpaksa menghentikan pendidikan filsafatnya lalu menjadi surveillant di Kolese Kanisius, Nijmegen selama empat tahun. Setelah kesehatannya pulih, ia meneruskan pendidikan teologi selama empat tahun. Tanggal 24 Agustus 1915, ia menerima tahbisan imam dari Monsinyur Schrijnen di Masstricht.

Setahun kemudian, dia diutus untuk mengajar di Universitas Beirut, Siria (sekarang Lebanon). Namun, sesampainya di Berlin, Jerman, dia tidak mendapatkan visa sehingga harus kembali ke Belanda. Dia pun menjalani tertiat di Exaeten. Tanggal 14 Oktober 1917, dia diangkat menjadi Rektor dan Pemimpin Novis di Mariendaal, dekat Grave, Brabant Utara. Pada tahun 1918, ia melepaskan jabatan Rektor dan tetap menjadi Pemimpin Novis karena Hukum Gereja 1917 menetapkan bahwa seorang pemimpin novis tidak boleh merangkap dua jabatan sekaligus.

Tanggal 5 September 1925, dia diangkat sebagai Rektor Teologan Yesuit pada Collegium Maximum Canisianum, Maastricht. Tanggal 4 Oktober 1926 sampai 30 Juli 1930, dia menjabat Konsultor Provinsial Yesuit di Belanda. Tahun 1927, dia diangkat sebagai Visitator Regularis Yesuit untuk misi di Jawa. Itulah perkenalan pertamanya dengan kegiatan misi. Ia mempunyai perhatian dalam banyak hal sehingga ia begitu mengenal wilayah misi meski hanya sebentar tinggal di Jawa (Januari-November 1928). Selama 9 bulan, ia mengunjungi rumah-rumah dan wilayah-wilayah kerja para Yesuit di Jawa. Setelah kembali ke Belanda, ia diangkat sebagai Visitator Misi di Madure, Trichinopoly, India yang dipercayakan kepada para Yesuit dari Toulouse, Perancis. Visitasi ini, yang juga terkait dengan pelbagai kunjungan di India, berlangsung sampai Juli 1931. Sejak Oktober 1931 sampai Juli 1932, dia menjadi Visitator di Hungaria. Selanjutnya, sejak bulan Oktober 1932 sampai Januari 1934, ia ditugaskan menjadi Visitator di Inggris.

Dibenum untuk Menjabat Vikaris Apostolik Batavia

Perutusan sebagai Vikaris Apostolik Batavia dimulai tanggal 23 Juli 1934. Dia dibenum oleh Paus Pius XI untuk menggantikan tugas Mgr. A.P.F. van Velsen, S.J. yang mengundurkan diri dari jabatan Vikaris Apostolik pada April 1933 karena alasan kesehatan. Berita pengangkatan itu disampaikan oleh Delegatus Apostolik untuk daerah Australia dan Asia kepada Provicaris Batavia, Pater A. Van Hoof, S.J. pada tanggal 9 Agustus 1934. Namun, pengangkatan ini kemudian menimbulkan kesulitan karena ada dua kota - yaitu Gereja Bunda Maria di Elandstraat, Den Haag dan Gereja asalnya di Reusel - yang memperebutkan kehormatan sebagai tempat penyelenggaraan pemberkatan Vikaris. Mereka saling mengajukan alasan yang kuat. Umat di Elandstraat mengklaim hak mereka karena gereja mereka menjadi tempat tinggal Pater Willekens saat menerima pengangkatan, sedangkan umat di Reusel mengajukan alasan karena gereja merekalah yang menjadi tempat kelahiran sang calon Vikaris.

Saat itu, Pater Willekens mendengar bahwa di Jawa akan diadakan konferensi lima tahunan para Vikaris di Hindia Belanda pada tanggal 19 September 1934. Konferensi ini akan membicarakan berbagai hal penting menyangkut berbagai kegiatan Gereja Katolik di Hinda Belanda. Dia merasa bahwa pertemuan ini sangatlah penting untuk menimba banyak pengalaman rekan-rekan vikaris yang telah lebih dahulu berkarya di Hindia Belanda. Alasan inilah yang mendorongnya untuk segera berangkat ke Batavia. Waktu dan tempat keberangkatan pun ditetapkan, yaitu pada tanggal 24 Agustus 1934 dari pelabuhan Genoa sehingga tahbisan Uskup akan dilakukan di tanah misi. Rencana keberangkatan itu mengakhiri perdebatan antara kedua umat di Elandstraat dan Reusel yang memperebutkan tempat penyelenggara tahbisan. Namun, Reusel tetap mendapat kesempatan untuk menghormati dan mengantar salah satu putranya dalam ekaristi sebelum dia bertugas di tanah misi Hindia Belanda dalam sebuah perjamuan dan ekaristi. Acara pada tanggal 18-19 Agustus 1934 itu menghasilkan kolekte yang dipersembahkan bagi karya misi di Batavia.

Tanggal 22 Agustus 1934, Pater Willekens berangkat dari Den Haag menuju Mariendaal dan bertemu dengan rekan sesama misionaris ke Hindia Belanda, yaitu Pater P. Teppema, S.J. dan 5 frater novis Yesuit yang lain. Tanggal 24 Agustus 1934, mereka berangkat menuju Genoa dalam kapal Christiaan Huygens yang akan melanjutkan perjalanannya ke pelabuhan Tandjong Priok, Batavia. Tanggal 13 September 1934, sekitar jam 08.00 pagi, kapal Christiaan Huygens memasuki dermaga pelabuhan Tandjong Priok di Batavia dan disambut oleh para imam dan perwakilan umat Katolik. Tanggal 19 September 1934, Pater Willekens telah berada di Girisonta untuk membuka Konferensi Uskup seluruh Hindia Belanda.

Tanggal 3 Oktober 1934, Pater Willekens menerima tahbisan uskup dari tangan Monsinyur Bertz Inze, Vikaris Apostolik Manado di Gereja Katedral Batavia dengan gelar Uskup Tituler dari Zorava. Motto tahbisan Uskup yang dipilih dalam jabatannya adalah “Scio Cui Credidi”. Kata-kata ini diambil dari kata-kata Rasul Paulus kepada Timoteus, “... karena aku tahu kepada siapa aku percaya...” (2 Tim 1: 12). Gagasan ini menjadi butir permenungan yang dituangkan dalam lambang uskup yang dimiliki oleh Monsinyur Willekens. Simbol yang digunakan adalah perisai. Di ruang berwarna biru, agak di bawah, terdapat gambar bulir-bulir keemasan yang juga terdapat pada simbol kota kelahiran Monsinyur Willekens. Di atas gambar bulir padi keemasan itu, terdapat simbol khas Serikat Yesus “IHS” dalam warna keemasan. Yesus yang dilingkari dengan rangkaian bintang menjadi tujuan. Ia adalah sumber segala kepercayaan. Siapa yang percaya kepadaNya dapat mengharapkan bahwa segala karya yang dilakukan bersamaNya akan membawa buah-buah abadi seperti yang ditunjukkan oleh bulir-bulir padi berwarna keemasan.

Sejak awal masa pelayanannya, Monsinyur Willekens telah mempunyai perhatian kepada pembangunan kehidupan beriman umat. Salah satu perwujudannya adalah penyediaan tenaga pelayan rohani pribumi melalui pendirian Seminari Tinggi Santo Paulus; pendirian Kongregasi Suster Abdi Dalem Sang Kristus; dan pengesahan Konggregasi Bruder Apostolik (Bruder Rasul). Selain itu, dia juga mulai membuka asrama seminari di Jalan Lapangan Banteng pada tahun 1950. Pada tahun 1952, seminari ini dipindah ke Tangerang. Selain itu, dia juga mengusahakan berkembangnya kehidupan iman umat dengan mendirikan tempat-tempat ibadah. Ia juga memperhatikan sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit. Di samping itu, beliau juga mempunyai perhatian besar terhadap pers. Baginya, pers adalah sarana untuk mewartakan iman kepada banyak orang. Perhatian beliau terhadap pers diwujudkan dengan diterbitkannya dwimingguan “Penabur” untuk masalah kemasyarakatan pada tahun 1946 dan mingguan “De Katholieke Week” (yang sekarang dikenal dengan Majalah HIDUP) untuk masalah kekatolikan pada tahun 1947.

Tugas penggembalaan Monsinyur Willekens mengalami tantangan berat pada masa pendudukan Jepang di Indonesia antara tahun 1942-1945. Jepang mempunyai tujuan perang untuk menghilangkan pengaruh Eropa di Asia dan menjadikan kawasan Asia Selatan sebagai suatu persemakmuran yang dikuasai oleh Jepang. Tujuan perang yang dimiliki Jepang ini sangat berpengaruh terhadap perlakuan kepada misionaris asing yang bekerja di Indonesia. Jepang mulai menghapuskan pengaruh asing dengan menginternir orang-orang asing. Tahun 1943, semua imam Eropa di Vikariat Batavia diinternir. Namun, Monsinyur Willekens sebagai Vikaris Apostolik Jakarta dan Pater C. Doumen, S.J. yang menjadi sekretarisnya tidak ikut diinternir berkat hubungan diplomatik antara Vatikan dan Jepang. Dia mendapat status bebas dan berulangkali mendatangi kantor-kantor instansi Jepang untuk mengajukan protes atau minta perhatian atas pelanggaran terhadap hak-hak personal dan milik Gereja seperti: pembunuhan Vikaris Apostolik Maluku beserta misionarisnya, perampokan gereja-gereja di Medan, pelarangan pemakaian pakaian biara bagi para suster, serta peniadaan subsidi untuk sekolah-sekolah dan panti asuhan.

Bersama dengan Monsinyur Soegijapranata (Vikaris Apostolik Semarang), Monsinyur Willekens berjuang terus untuk memelihara kehidupan iman umat. Bahkan kepada Soegijapranata, dia mengirimkan nota yang salah satu isinya mendesak untuk memberi prioritas dan mempertahankan pendidikan imam. Bersama dengan umat yang masih muda imannya, mereka berdua terus mempertahankan agar iman itu tetap hidup. Monsinyur Willekens menyadari bahwa umat pada saat pendudukan Jepang membutuhkan kehadiran seseorang yang dapat meneguhkan kehidupan beriman mereka. Atas keberanian dan jasanya selama itu, Ratu Belanda menganugerahkan sebuah kehormatan kepada Monsinyur Willekens dengan mengangkatnya sebagai Commandeur in de Orde van Oranje Nassau pada tahun 1946. Selain itu, ia juga menerima tanda kehormatan dari Sunan Paku Buwono X, Raja Surakarta.

Setelah Jepang bertekuk lutut dan meninggalkan Indonesia, Monsinyur Willekens mulai membenahi keadaan dan kerusakan akibat perang. Di berbagai tempat, ia – yang ternyata mengalami kelemahan fisik akibat kerja keras dan situasi kekurangan selama pendudukan Jepang - menemukan para imam, bruder, suster maupun umatnya yang berada dalam situasi kesehatan yang tidak baik. Akhirnya, para dokter melarangnya bekerja keras dan memaksanya mengambil cuti kesehatan di Belanda. Tanggal 26 Juni 1947 - 10 Agustus 1948, dia mengambil cuti. Setelah itu, dia datang lagi di Indonesia dan melanjutkan tugasnya sampai tahun 1952.

Pensiun dari Jabatan Vikaris Apostolik

Tahun 1952, Monsinyur Willekens merasa bahwa kondisi kesehatannya semakin menurun dan usianya semakin lanjut. Berdasarkan dua alasan itu, dia mengajukan permohonan kepada Tahta Suci Vatikan agar dibebaskan dari tugas jabatan uskup dan Vatikan pun mengabulkan permohonan itu. Tanggal 23 Mei 1952, Monsinyur Willekens meletakkan jabatan Vikaris Apostolik. Untuk sementara, tugas-tugas penggembalaan dipimpin oleh Pater C. Doumen, S.J. Setahun kemudian, pada tanggal 18 Februari 1953, tugas penggembalaan di Vikariat Apostolik Batavia diserahkan kepada Pater Adrianus Djajasepoetra, S.J. Ia kemudian ditahbiskan sebagai Vikaris Apostolik Batavia dengan gelar Uskup Tituler dari Trisipa pada tanggal 23 April 1953.

Memasuki masa pensiun, Monsinyur Willekens memilih tugas yang sejak dulu menjadi kesukaannya, yaitu mengasuh para calon imam. Dia mengasuh para calon imam Yesuit di Novisiat Girisonta, Ungaran antara tahun 1953-1963. Tahun 1963, dia berpindah ke Jogjakarta dan bertugas sebagai pembimbing rohani para calon iman yang belajar teologi di Kolese Santo Ignatius, Kotabaru, Yogyakarta. Tugas itu dilaksanakannya sampai terdengar kabar bahwa Monsinyur Petrus Joannes Willekens, S.J., mantan Vikaris Apostolik Jakarta, meninggal dunia pada hari Rabu, 27 Januari 1971, sekitar jam 07.30 di Rumah Sakit Panti Rapih, Jogjakarta. Monsinyur Willekens meninggal dunia dalam usia 89 tahun, setelah 55 tahun ditahbiskan menjadi imam dan 36 tahun menjadi uskup.

Kamis, 28 Januari 1971, misa requiem dimulai pukul 10.00 dan dipimpin oleh Kardinal Justinus Darmojuwono bersama Mgr. Leo Soekoto, S.J.; Mgr. Adrianus Djajasepoetra, S.J.; Pater H. Stolk, S.J.; Pater T. Wignjasupadma, S.J.; dan Pater F.X. Danuwinoto. Pukul 11.30, setelah misa selesai, iringan mobil jenazah mulai bergerak menuju Muntilan didahului dengan pembuka jalan (voorrijders) yang diikuti kendaraan para pelayat. Sampai di Muntilan, peti jenazah langsung dibawa ke gedung gereja St. Antonius untuk diberkati dengan upacara penghormatan terakhir yang dipimpin Monsinyur Adrianus Djajasepoetra, S.J., bekas anak didik dan penerus jabatan sebagai Vikaris Apostolik Batavia. Akhirnya, jenazah Monsinyur Petrus Joannes Willekens, S.J. dikebumikan di Kerkhoff Muntilan, di antara tokoh-tokoh pelopor misi Jawa Tengah, seperti Pater van Lith, S.J. dan Pater Mertens, S.J.

Penutup

Monsinyur Petrus Joannes Willekens, S.J. telah berpulang, tetapi jasanya mengakarkan iman Katolik di bumi Nusantara tetap teringat. Dia berbaring di dalam tanah misi Indonesia yang telah dikembangkannya selama dia berkarya. Dia, yang menaruh hati dan pikirannya untuk umat pribumi, layak disejajarkan dengan para perintis karya misi di Jawa. Dia adalah soko guru Gereja Katolik di Indonesia. Karyanya semasa menjabat Vikaris Apostolik menunjukkan betapa dia telah sungguh-sungguh mengusahakan perkembangan iman Katolik. Semoga dia mendapatkan kebahagiaan abadi menghadap Dia yang selama ini dipercayainya...




P. Widyawan Widhiasta

1 comment:

paulus widyawan said...

saya tersanjung melihat tulisan saya dipasang di blog ini. terima kasih karena boleh menyumbang sedikit kepada almamater yang telah ikut membentuk saya dalam menempuh kehidupan saya ini.